Legenda Danau
Kembar
Cerita ini berasal dari Sumatera Barat, yang
ditulis oleh Pinto Anugrah. Dimana, pada zaman dahulu, Pulau Sumatera masih
bernama Pulau Andalas. Pulau Andalas masih diselimuti hutan yang sangat lebat.
Ada sebuah kampung di pinggir salah satu hutan lebat itu. Di kampung itu,
hiduplah seorang kakek yang bernama Inyik Gadang Bahan, yang mempunyai kapak
yang sama besarnya dengan tubuhnya. Walaupun tubuhnya besar, tetapi ia tidak
seram karena ia seorang yang ramah dan suka menolong, serta sangat rajin
bekerja.
Namun, di dalam hutan, di desa mereka ada
seekor naga yang sangat jahat dan ingin membunuh penduduk didesa itu. Kemudian
Inyik Gadang membantu penduduk desa dengan cara memperingatkan penduduk desa
agar waspada, karena bisa saja naga yang jahat itu sampai ke kampung mereka
untuk memangsa mereka dan membakar seluruh kampung.
Naga tersebut melintas ke kampung, ingin
menyambar atap rumah-rumah penduduk dengan semburan api dari mulutnya. Tetapi
Inyik Gadang Bahan langsung bertempur demi menyelamatkan penduduk kampung dan
hutan di sekitarnya dengan melayangkan kapak miliknya dan kapak itu tepat
mengenai tubuh naga yang jahat. Naga yang jahat langsung tersungkur dan tidak
berdaya. Badannya yang panjang kini terkapar. Meliuk-liuk menahan sakit. Darah
dari tubuhnya lama-kelamaan menggenang. Darah itu menggenang pada bagian ekor
dan bagian kepalanya. Lama-kelamaan, genangan darah naga yang jahat itu berubah
menjadi danau. Itulah yang saat ini disebut orang-orang sebagai Danau Kembar di
Sumatra Barat. Danau di Atas pada bagian kepala naga dan Danau di Bawah pada
bagian ekor naga.
Kisah Tiga Saudara
Cerita ini berasal
dari Sumatera Barat, yang ditulis oleh S. Metron Masdison. Dimana ada tiga
orang bersaudara bernama Rondok Didin yaitu anak yang sulung, Murai dan Bonsu
yang merupakan anak-anak dari Raja Alam Pagaruyung, yang turun tahta karena
difitnah oleh Raja Angek Garang. Dimana raja Angek Garang merupakan penyamun di
daerah pesisir. Ketiga anak-anak Raja Alam ingin dibunuh, namun Raja menyuruh
dua Dubalangnya untuk membawa mereka ke hutan agar selamat. Tetapi kedua
dubalang itu hanya mengantarkan mereka sampai perbatasan desa. Dan mereka
bertiga tidur di hutan, dengan rasa takut dan tidak tenang. Namun di hari
berikutnya mereka sudah terbiasa hidup di hutan. Mereka menelusuri hutan dan
suatu hari, sampai lah pada gua yang
cukup luas. Dan mereka melihat, duduk seorang kakek yang bernama Gaek. Kakek
tersebut menyuruh mereka masuk dan tidak usah takut.
Pada suatu hari,
Rondok berhasil menangkap seekor ayam diatas pohon besar dan ayam tersebut
disembelih. Rondok membagi dengan adil, dimana ia dapat kepala dan daging paha.
Bagian Bonsu, ekor dan paha, sedangkan Murai daging dada dan kaki.Saat melepas
kekenyangan, Gaek muncul dari balik pohon dan memandang sisa potongan ayam yang
terungguk. Lalu Gaek menyuruh mereka kembali ke hutan dengan jalan masing
masing sesuai dengan bagian ayam yang dimakan tadi. Karena Rondok disuruh ke
Palinggam Jati dan akan menjadi raja. Murai disuruh ke Aceh dan akan menjadi
hulubalang. Sedangkan Bonsu ke Malaka,
dimana Gaek mengatakan Nasibmu akan berliku, tetapi engkau akan menjadi orang
yang hebat.
Akhirnya sebelum Gaek
meninggal, Bonsu disuruh kembali ke kerajaan ayahnya dan menumpas Raja Angek.
Dengan bantuan kedua kakaknya mereka berhasil mengalahkan Raja Angek. Dan Bonsu
di suruh memerintah sebagai pengganti ayahnya di kerajaan tersebut, tetapi
Bonsu menjawab bahwa ia tidak mau karena ia tidak seadil Raja atau ayahnya.
Bonsu memilih tinggal
di Gunung Selasih, tempat Gaek mengenalkannya pada alam. Disana ia juga jadi
raja. Raja bagi seluruh penghuni hutan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar